LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERASAN

LAPORAN PENDAHULUAN

  1. MASALAH UTAMA

Perilaku kekerasan

  1. PROSES TERJADINYA MASALAH
    1. Pengertian

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik terhadap diri sendiri maupun orang lain (Towsend, 1982).

  1. Etiologi

Gangguan kosep diri : harga diri rendah

  1. Tanda Dan Gejala
  • Klien mengatakan benci / kesal dengan seseorang
  • Suka membentak
  • Menyerang orang yang sedang mengusiknya jika sedang kesal atau kesal
  • Mata merah dan wajah agak merah
  • Nada suara tinggi dan keras
  • Bicara menguasai
  • Pandangan tajam
  • Suka merampas barang milik orang lain
  • Ekspresi marah saat memnicarakan orang
  1. Mekanisme Sebab – Akibat

v  Sebab : Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah

Mekanisme : Harga diri klien yang rendah menyebabkan klien merasa malu, dianggap tidak berharga dan berguna. Klien kesal kemudian marah dan kemarahan tersebut diekspresikan secara tak konstruktif, seperti memukul orang lain, membanting-banting barang atau mencederai diri sendiri.

v  Akibat  : Resiko menciderai diri sendiri orang lain dan lingkungan

Mekanisme : Klien dengan perilaku kekerasan menyebabkan klien               berorientasi pada tindaakan untuk memenuhi secara listrik        tuntutan  situasi stress, klien akan berperilaku menyerang,   merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan                 sekitar.

  1. PENGKAJIAN
    1. Data Subyektif.

                                     Klien mengatakan benci / kesal dengan seseorang, suka       membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang marah             atau kesal.

  1. Data Obyektif.

                 Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai, pandangan tajam, suka merampas barang milik orang lain, ekspresi marah saat membicarakan orang lain.

  1. DAFTAR MASALAH

Data

Masalah

Etilogi

DO :

–          Klien tampak lebih suka sendiri

–          Binggung jika disuruh memilih alternatif tindakan

–          Ingin menciderai diri / ingin mengakiri kehidupan

DS :

–          Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh/ tidak tahu apa-apa

–          Klien mengkritik diri sendiri

–          Mengungkapkan perasaan terhadap diri sendiri

DO :

–          mata merah, wajah agak memerah, nada suara tinggi dan keras, pandangan tajam.

DS :

–          klien mengatakan benci dan kesal pada seseorang

–          klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal

DO :

–          Klien memukul diri sendiri atau orang lain

–          Klien merampas barang milik orang lain

–          Klien membanting barang-barang

DS :

–          Klien mengatakan benci dan ingin memukul sese-orang

–          Klien membentak sese-orang dan mengatakan kata – kata kasar dan kacau

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Perilaku kekerasan

Resiko menciderai dairi sendiri, orang lain dan lingkungan

Masalah

 
   

 

Stressor

Mekanisme koping tak efektif

Masalah tak terselesaikan dengan baik

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Ancaman/ kebutuhan

Stress

 
   

 

Cemas

 
   

 

Masalah

Marah tak terungkap

 
   

 

Agresif / amuk

Marah

 
   

 

Merasa kuat

Menantang

Masalh tak selesai

Masalah berkepanjangan

Muncul rasa bermusuhan

Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan

  1. POHON MASALAH

Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan                      akibat

                          Perilaku kekerasan                                         core problem

        Gangguan konsep diri : Harga diri rendah                            penyebab

                                                                                                    (Keliat, 1998)

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Resiko tinggi menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
    2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
  1. FOKUS INTERVENSI

DIAGNOSA : Resiko menciderai diri sendiri, orng lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.

  1. Tujuan Umum

Klien tidak menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

  1. Tujuan Khusus
    1. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Kriteria evaluasi :

–          Klien mau membalas salam

–          Klien mau berjabat tangan

–          Kllien mau menyebut nama

–          Klien mau tersenyum

–          Klien ada kontak mata

–          Klien mau mengetahui nama perawat

–          Klien mau menyediakan waktu untuk perawat

Intervensi keperawatan :

1.1   Beri salam dan panggil nama klien

1.2   Sebutkan nama perawat sambil berjabat tangan

1.3   Jelaskan maksud hubungan interaksi

1.4   Jelaskan kontrak yang akan dibuat

1.5   Beri rasa aman dan tunjukkan sikap empati

1.6   Lakukan kontak singkat tetapi sering

Rasionalisasi :

Hubungan  saling percaya merupakan dasar untuk hubungan selanjutnya.

  1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

Kriteria Evaluasi :

–          Klien mengungkapkan perasaannya

–          Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan marah, jengkel/ kesal ( diri sendiri, orang lain dan lingkungan)

Intervensi keperawatan :

2.1  Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya

2.2  Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan marah, jengkel/ kesal

Rasionalisasi :

Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stress dan penyebab marah, jengkel/ kesal dapat diketahui.

  1. Klien dapat mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan

Kriteria evaluasi :

–          Klien dapt mengungkapkan tanda-tanda marah, jengkel/ kesal

–          Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah, jengkel/ kesal yang dialami

Intervensi keperawatan :

3.1  Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami soal marah, jengkel/ kesal.

3.2  Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien

3.3  Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/ kesal yang dialami klien.

Rasionalisasi :

–          Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan saat jengkel

–          Untuk mengetahui tanda-tanda klien jengkel/ kesal

–          Menarik kesimpulan bersama klien supaya kllien mengetahui secara garis besar tanda- tanda marah / kesal.

  1. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

Kriteria evaluasi:

–          klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien.

–          Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

–          Klien mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan  masalah/ tidak

Intervensi:

4.1. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien

4.2. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang    biasa dilakukan

4.3. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.

Rasionalisasi:

–          mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

–            untuk mengetahui perilaku kekerasan yang biasa klien lakukan dan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku konstruktif dengan destruktif

–            dapat membantu klien, dapat menggunakan cara yang dapat menyelesaikan masalah.

  1. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

Kriteria evaluasi:

Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien.

                        Intervensi keperawatan:

5.1. Bicarakan akibat/ kerugian dari cara yang telah dilakukan klien

5.2. Bersama klien simpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien.

5.3. Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang           sehat.

Rasionalisasi:

–          membantu klien menilai perilaku kekerasan yang dilakukan.

–          Dengan mengetahui akibat perilaku kekerasan diharapkan klien dapat mengubah perilaku destruktidf menjadi konstruktif.

–          Agar klien dapat mempelajari perilaku konstruktif yang lain.

  1. klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Kriteria evaluasi:

Klien dapat melakukan cara berespon terhdap kemarahan secara konstruktif.

Intervensi:

–          Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat

–          Berikan pujian bila klien mengetahui cara lain yang sehat.

–          Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.

  1. secara fisik: tarik nafas dalam saat kesal, memukul kasur/ bantal, olah raga, melakukan pekerjaan yang penuh tenaga.
  2. Secara verbal: katakan pada perawat atau orang lain
  3. Secara sosial: latihan asertif, manajemen PK.
  4. Secara spiritual: anjurkan klien sembahyang, berdoa,/ ibadah lain

            Rasionalisasi:

–          dengan mengidentifikasi cara yang konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kekesalannya sehingga klien tidak stress lagi.

–          Reinforcement positif dapat memotivasi klien dan meningkatkan harga dirinya.

–          Berdiskusi dengan klien untuk memilih cara yang lain dan sesuai dengan kemampuan klien.

  1. klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan

kriteria evaluasi:

–          klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.

  1. fisik: tarik nafas dalam, olah raga, menyiram tanaman.
  2. Verbal: mengatakan langsung denhan tidak menyakiti.
  3. Spiritual : sembahyang, berdoa, ibadah lain

Intervensi keperawatan:

7.1. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.

7.2. Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih

7.3. Bantu klien menstimulasi cara tersebut (role play).

7.4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut.

7.5. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah.

Rasionalisasi:

–          memberikan stimulasi kepada klien untuk menilai respon perilaku kekerasan secara tepat.

–          Membantu klien dalam membuat keputusan untuk cara yang telah dipilihnya dengan melihat manfaatnya.

–          Agar klien mengetahui cara marah yang konstruktif

–          Pujian dapat meningkatkan motifasi dan harga diri klien.

–          Agar klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilihnya jika sedang kesal.

  1. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.

Kriteria evaluasi:

–          Keluarga klien dapat:

  1. menyebutkan cara merawat klien yang berperilaku kekerasan
  2. mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien

Intervensi keperawatan:

8.1. Identifikasi kemampuan keluarga klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.

                        8.2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.

                        8.3. Jelaskan cara-cara merawat klien.

                        8.4. Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.

8.5. Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.

Rasionalisasi:

–          kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi akan memungkinkan keluarga untuk melakukan penilaian terhadap perilaku kekerasan

–          meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien sehingga keluarga terlibat dalam perawatan klien.

–          Agar keluarga dapat klien dengan perilaku kekerasannya

–          Agar keluarga mengetahui cara merawat klien melalui demonstrasi yang dilihat keluarga secara langsung.

–          Mengeksplorasi perasaan keluarga setelah melakukan demonstrasi.

  1. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program pengobatan)

Kriteria evaluasi:

–          klien dapat menyebutkan obat- obatan yang diminum dan kegunaan (jenis, waktu, dosis, dan efek)

–          klien dapat minum obat sesuai program terapi

Intervensi keperawatan:

9.1.jelaskan jenis- jenis obat yang diminum klien (pada klien dan keluarga)

9.2. diskusikan menfaat minum obat dan kerugian jika berhenti minum obat tanpa seijin dokter

9.3. jelaskan prinsip benar minum obat (nama, dosis, waktu, cara minum).

9.4. anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu.

9.5. anjurkan klien melapor kepada perawat/ dokter bila merasakan efek yang tidak menyenangkan.

9.6. berikan pujian pada klien bila minum obat dengan benar.

Rasionalisasi:

–          klien dan keluarga dapat mengetahui mana-mana obat yang diminum oleh klien.

–          Klien dan keluarga dapat mengetahui kegunaan obat yang dikonsumsi oleh klien.

–          Klien dan keluarga dapat mengetahui prinsip benar agartidak terjadi kesalahan dalam mengkonsumsi obat.

–          Klien dapat memiliki kesadaran pentingnya minum obat dan bersedia minum obat dengan kesadaran sendiri.

–          Mengetahui efek samping obat sedini mungkin sehingga tindakan dapat dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari komplikasi.

–          Reinforcement positif dapat memotivasi keluarga dan klien serta meningkatkan harga diri.

DAFTAR PUSTAKA

 

Boyd dan Nihart. (1998). Psychiatric Nursing& Contemporary Practice. 1st edition. Lippincot- Raven Publisher: Philadelphia.

Carpenito, Lynda Juall. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.

Schultz dan Videback. (1998). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition. Lippincott- Raven Publisher: philadelphia.

Keliat, Budi Anna. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta.

Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.

Townsend. (1995). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan Construction. Edisi 3. EGC: Jakarta.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

MASALAH PERILAKU KEKERASAN

 

NAMA MAHASISWA         :  M A H M U R

NIM                                        : 1.1.10459

PERTEMUAN KE               : I

 

A. Proses keperawatan

            1. Kondisi       :

                        DO : wajah agak memerah, nada suara tinggi dan keras, pandangan tajam

–                            DS : Kien mengatakan benci dan kesal pada seseorang

            2. Diagnosa     : Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b/d                                 perilaku kekerasan.

            3. TUK       1   : Membina hubungan saling percaya

                               2   : Mendefinisikan penyebab marah

Tindakan keperawatan

     1.    a.  Membina hubungan saling percaya dengan menggunakan prisip                                                   komunikasi teurapetik

  1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
  2. Perkenalkan diri dengan sopan sambil jabat tangan.
  3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
  4. Jelaskan maksud hubungan interaksi.
  5. beri rasa aman dan sikap empati.
  6. lakukan kontak singkat dan sering.

     2.    a. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya

            b. Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel atau kesal

Fase hubungan orientasi :

  1. Salam terapeutik :

       Selamat pagi, nama saya Mahmur . Saya biasa dipanggil mas Mahmur, kamu          namanya siapa ?

       Saya akan menemani (nama pasien) disini.

b.    Evaluasi/ validasi

       Kenapa (nama pasien) sampai dibawa kemari?

c.     Kontrak

       Topik               : Bagaimana kalau kita bercakap- cakap tentang tentang hal- hal                              yang menyebabkan (nama pasien) marah- marah.

       Tempat            : (nama pasien ) ingin bercakap- cakap dimana ? bagaimana kalau                            disini saja?

       Waktu             : Mau berapa lama ? bagaimana kalau 10 menit.

Fase kerja

  • Apa yang membuat (nama pasien) marah- marah dan membanting barang- barang ?
  • Apakah ada yang membuat (nama pasien) kesal atau punya masalah lain ? coba ceritakan pada saya.
  • Apakah sebelumnya (nama pasien) pernah marah ? apakah penyebabnya? Apakah sama dengan sebelumnya ?

Fase terminasi

  1. Evaluasi subyektif

            Bagaimana perasaan (nama pasien) setelah kita bercakap- cakap ?

  1. Evaluasi obyektif

            Coba sebutkan lagi, apa yang membuat (nama pasien) marah- marah ?

            Bagus kalau (nama pasien) tahu.

  1. Rencana tindak lanjut

            Baiklah waktu kita sudah habis. Nanti coba diingat- ingat lagi penyebab     marah yang lain.

  1. Kontrak yang akan datang

Topik        : Besuk kita akan bicara tentang tanda dan gejala orang yang                       marah- marah, atau perasaan (nama pasien) saat marah dan cara                    marah yang biasa (nama pasien) lakukan.

Tempat     : Mau dimana kita bicara ? bagaimana kalau disini?

Waktu      : Besuk kita bertemu jam 09.00 ya. Da… sampai besuk. Jangan                    lupa.

KECEMASAN (ANXIETY)

Kecemasan bukanlah suatu penyakit melainkan suatu gejala. Kebanyakan orang mengalami kecemasan pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupannya. Biasanya, kecemasan muncul sebagai reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan, dan arena itu berlangsung sebentar saja

Kecemasan merupakan keadaan suasana hati yang ditandai oleh afek negative dan gejala-gejala ketegangan jasmaniah dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya  bahaya atau kemalangan dimasa yang akan dating dengan perasaan khawatir. Kecemasan mungkin melibatkan perasaan, perilaku, dan respon-respon fisiologis. Kecemasan merupakan suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, perubahan,, pengalaman sesuatu yang baru dan belum dicoba, dan dari identitasnya sendiri serta arti hidup

Kecemasan adalah respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebabnya yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya

Kecemasan berbeda dengan rasa takut, karakteristik rasa takut adalah adanya objek/sumber dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam. Ketakutan disebabkan oleh hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat mengidentifikasi dan menggambarkannya (Sunaryo, 2004).

  1. Penyebab Kecemasan

Kecemasan terjadi sebagai akibat dari ancaman terhadap harga diri atau identitas diri yang sangat mendasar bagi keberadaan individu. Kecemasan dikomunikasikan secara interpersonal dan merupakan peringatan yang berharga dan penting untuk upaya memelihara keseimbangan diri dan melindungi diri.

Kecemasan tidak dapat dihindari dari kehidupan individu dalam memelihara keseimbangan. Pengalaman cemas seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal.

Ada empat faktor utama yang memeprngaruhi perkembangan pola dasar yang menunjukan reaksi rasa cemas :

a. Lingkungan

Kecemasan sering timbul bila seseorang merasa tidak aman dengan lingkungannya.

b. Emosi yang ditekan

Kecemasan terjadi jika seseorang menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang lama sekali.

c. Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

d. Keturunan

Sekalipun gangguan emosi ada yang ditemukan dalam keluarga tertentu, ini bukan penyebab penting dari kecemasan (Ramaiah, 2003).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan :

a. Faktor internal

1)  Pengalaman

Sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan tersebut bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang, misalnya seseorang yang memiliki pengalaman dalam menjalani suatu tindakan maka dalam dirinya akan lebih mampu beradaptasi atau kecemasan yang timbul tidak terlalu besar (Horney dan Trismiati, 2006).

2)  Respon terhadap stimulus

Kemampuan seseorang menelaah rangsangan atau besarnya rangsangan yang diterima akan mempengaruhi kecemasan yang timbul (Horney dan Trismiati, 2006).

3)  Usia

Pada usia yang semakin tua maka seseorang semakin banyak pengalamnnya sehingga pengetahuannya semakin bertambah. Karena pengetahuannya banyak maka seseorang akan lebih siap dalam menghadapi sesuatu (Notoatmodjo, 2003).

4)  Gender

Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, Myers (1983) dalam Trismiati (2006) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.

b. Faktor eksternal

1)       Dukungan keluarga

Adanya dukungan keluarga akan menyebabkan seorang lebih siap dalam menghadapi permasalahan (Kasdu, 2002).

2)       Kondisi lingkungan

Kondisi lingkungan sekitar ibu dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi  permasalahan, misalnya lingkungan pekerjaan atau lingkungan bergaul yang tidak memberikan cerita negatif tentang efek negatif suatu permasalahan menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menghadapi permasalahan (Baso, 2000).

 3. Manifestasi Kecemasan

A. Manifestasi kognitif.

Yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.

B. Perilaku motorik.

Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar.

C. Perubahan somatik.

Muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah.

D. Afektif.

Diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang berlebihan.

Stuart dan Sunden (1998) memberikan suatu penilaian respon fisiologis dan respon perilaku, kognitif dan afektif terhadap kecemasan meliputi :

  1. Respon simpatis

1)   Kardiovaskuler : palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun.

2)   Pernafasan : nafas pendek, nafas cepat, tekanan pada dada, nafas dangkal, pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik, terengah-engah.

3)   Neuromuskuler : refleksi meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah, gerakan yang janggal.

4)   Gastrointestinal : kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare.

5)   Traktus Urinarius : tidak dapat menahan kencing, sering berkemih.

6)   Kulit : wajah kemerahan, berkeringat setempat ( elapak tangan), gatal, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat berkeringat sekujur tubuh.

2. Respon Parasimpatis

1)      Perilaku Afektif : Gelisah, ketegangan fisik, tremor, gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cendrung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan intrpersonal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindar.

2)      Perilaku Kognitif : Perhatian terganggu, konsentrasi terganggu dan pelupa, salah dalam memberikan penilaian, preokupasi dan hambatan berfikir, kreatifitas dan prodoktifitas menurun, bingung, sangat waspada, kesadaran diri meningkat, kehilangan objektifitas, takut kehilangan control, takut pada gambran visual, takut cedera atau kematian.

  1. Kognitif : Mudah terganggu, tidak sabar, gelisah dan tegang, nervus dan ketakutan, alarm, teror, gugup, gelisah.
  2. Tingkat kecemasan

Stuart dan Sunden (1998) membagi kecemasan menjadi 4 tingkatan, yaitu :

a. Kecemasan ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dab individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.

1)   Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, gejala ringan pada lambung, mika berkerut dan bibir bergetar.

2)   Respon kognitif : Lapang persegi meluas, mampu menerima ransangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif.

3)   Respon perilaku dan emosi : Tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi

b. Kecemasan sedang

Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun/individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.

1)   Respon fisiologis : Sering nafas pendek, nadi ekstra systole dan tekanan darah naik, mulut kering, anorexia, diare/konstipasi, gelisah

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi menyempit, rangsang Luar tidak mampu diterima, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya

3)   Respon perilaku dan emosi : Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan), bicara banyak dan lebih cepat, perasaan tidak nyaman

c. Kecemasan berat

Pada kecemasan berat lahan persepsi menjadi sempit. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan/tuntutan.

1)   Respon fisiologis : Sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi sangat menyempit, tidak mampu menyelesaikan masalah

3)   Respon perilaku dan emosi : Perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat, blocking

d. Panik

Pada tingkat ini persepsi sudah terganggu sehingga individu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntunan.

1)   Respon fisiologis : Nafas pendek, rasa tercekik dan berdebar, sakit dada, pucat, hipotensi

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi menyempit, tidak dapat berfikir lagi

3)   Respon perilaku dan emosi : Agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriak-teriak, blocking, persepsi kacau.

  1. Skala Kecemasan

 Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic.  Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale).  Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe).

Penilaian kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi :

  1. Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tensinggung.
  2. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.
  3. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
  4. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
  5. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi.
  6. Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
  7. Gejala somatik: nyeri patah otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
  8. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah.
  9. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
  10. Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.
  11. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut.
  12. Gejala urogenital : sering kencing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
  13. Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka  merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala.
  14. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat.

              Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dan kategori :

Nilai

Kategori

0

Tidak ada gejala sama sekali

1

Satu dari gejala yang ada

2

Sedang/separuh dari gejala yang ada

3

Berat/lebih dari setengah gejala yang ada

4

Sangat berat /semua gejala ada.

                                                          Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah skor dan item 1-14 dengan hasil :

Skor

Hasil

< 6

Tidak ada kecemasan

7-14

Kecemasan ringan

15-27

Kecemasan sedang

>27

Kecemasan berat

(Nursalam, 2003)

 

KONSEP PERILAKU CARING

  1. Konsep Perilaku Caring

Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang mempunyai suatu paradigma atau model keperawatan yang meliputi empat komponen yaitu : manusia, kesehatan, lingkungan dan perawat itu sendiri.  Perawat adalah suatu profesi yang mulia, karena memerlukan kesabaran dan ketenangan dalam melayani pasien yang sedang menderita sakit. Seorang perawat harus dapat melayani pasien dengan sepenuh hati. Sebagai seorang perawat harus dapat memahami masalah yang dihadapi oleh klien, selain itu seorang perawat dapat berpenampilan menarik. Untuk itu seorang perawat memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang lain, ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring atau kasih sayang (Dwidiyanti, 2007).

Caring sangatlah penting untuk keperawatan. Caring adalah fokus pemersatu untuk praktek keperawatan. Perilaku caring juga sangat penting untuk tumbuh kembang, memperbaiki dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia (Blais, 2007).

Caring juga merupakan sikap peduli, menghormati dan menghargai orang lain, artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan – kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang berfikir dan bertindak. Memberikan asuhan (Caring) secara sederhana tidak hanya sebuah perasaan emosional atau tingkah laku sederhana, karena caring merupakan kepedulian untuk mencapai perawatan yang lebih baik, perilaku caring bertujuan dan berfungsi membangun struktur sosial, pandangan hidup dan nilai kultur setiap orang yg berbeda pada satu tempat ( Dwidiyanti, 2007 ).

Maka kinerja perawat khususnya pada perilaku caring menjadi sangat penting dalam mempengaruhi  kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan ( Potter & Perry, 2005 ).

Perilaku caringdalam keperawatan adalah hal yang sangat mendasar. Caring adalah kegiatan langsung untuk memberikan bantuan, dukungan, atau membolehkan individu (kelompok) melalui antisipasi bantuan untuk meningkatkan kondisi individu atau kehidupan George (2002) dikutip dalam Leininger (1979).

Leininger dalam Farland, (2002) mengemukakan juga bahwa caring adalah kebutuhan dasar manusia yang esensial, caring adalah keperawatan, caring adalah penyembuhan, caring adalah jantung dan jiwa keperawatan, caring adalah kekuatan, caring adalah ciri-ciri istimewa dari keperawatan sebagai suatu profesi atau disiplin.

Meskipun perkataan caring telah digunakan secara umum, tetapi tidak terdapat definisi dan konseptualisasi yang universal mengenai caring itu sendiri Leddy (1998) dikutip dalam Swanson (1991). Caring sulit untuk didefinisikan karena memiliki makna yang banyak, sebagai kata benda atau kata kerja, sebagai sesuatu yang dapat dirasakan, sebagai sikap ataupun perilaku (Berger & William, 1992).

  1. Peran perawat yang caring

Peran perawat  menurut CHS Community Health Service (1989) dikutip dalam Zaidin (2002)  terdiri dari :

  1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan. Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
  2. Sebagai advokat. Peran ini dilakukan perawat dalam membantu pasien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk ganti rugi akibat kelalaian.
  3. Sebagai edukator. Peran ini dilakukan dengan membantu pasien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit dan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari pasien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
  4. Sebagai koordinator. Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan pasien.
  5. Sebagai kolaborator. Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
  6. Sebagai konsultan. Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang diberikan tepat tujuan. Peran ini dilakukan atas permintaan pasien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
  7. Sebagai pembaharu. Peran disini dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.   

 

Menurut Leininger (1981), dikutip dalam Kozier dkk (2004) menjelaskan bahwa perawatan dan caring adalah :

  1. Caring meliputi tindakan-tindakan membantu, mendukung dan menfasilitasi orang lain atau kelompok yang mempunyai kebutuhan yang nyata atau yang dipikirkan sebelumnya.
  2. Caring berfungsi untuk meningkatkan kondisi manusia. Hal ini menekankan aktivitas yang membantu dari seseorang dan kelompok yang didasarkan kepada model yang membantu mendefinisikan secara budaya.
  3. Caring sangat penting bagi perkembangan manusia, pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya.
  4. Perilaku-perilaku caring meliputi rasa nyaman, perhatian, kasih, empati, minat, keterlibatan, kegiatan konsultasi kesehatan, perilaku membantu, cinta, pengasuhan, keberadaan, perilaku melindungi, perilaku memberikan stimulasi, penghilangan stress, dukungan, kelembutan, sentuhan dan kepercayaan.
  5. Asumsi-asumsi caring perawat

Caring merupakan kekuatan yang sangat penting dalam hubungan antara pasien dengan perawat, dan suatu kekuatan untuk melindungi dan meningkatkan martabat pasien. Sebagai contoh, dibimbing oleh kerangka kerja ini para perawat menggunakan sentuhan dan ucapan yang jujur untuk menegaskan kepada pasien sebagai manusia, bukan objek-objek, dan membantu mereka membuat pilihan-pilihan dan menemukan arti dalam pengalaman sakit mereka (Kozier, 2004).

Watson mengemukakan 11 asumsi yang berhubungan dengan caring, yaitu :

  1. Perhatian dan kasih sayang merupakan kekuatan batin yang utama dan universal.
  2. Kasih sayang yang bermutu dan caring adalah penting bagi kemanusiaan, tetapi sering diabaikan dalam hubungan antar sesama.
  3. Kemampuan untuk menyokong ideologi dan ideal caringdi dalam praktek keperawatan akan mempengaruhi perkembangan dari peradaban dan menentukan kontribusi keperawatan kepada masyarakat.
  4. Caring terhadap diri sendiri adalah prasyarat bagi caring terhadap orang lain.
  5. Keperawatan selalu memegang konsep caring di dalam berhubungan dengan orang lain dalam rentang sehat-sakit.
  6. Caring adalah esensi dari keperawatan dan merupakan fokus utama dalam praktek keperawatan.
  7. Pelayanan kesehatan secara signifikan telah menekankan pada human care.
  8. Pondasi caring keperawatan dipengaruhi oleh tekhnologi medis dan birokrasi institusi.
  9. Penyediaan dan perkembangan dari human care menjadi isu yang hangat bagi keperawatan untuk saat ini maupun masa yang akan datang.
  10. Human care hanya dapat diterapkan secara efektif melalui hubungan interpersonal.
  11. Kontribusi keperawatan kepada masyarakat terletak pada komitmen pada humancare (Nurachmah, 2001).

 

Tahap perkembangan hubungan caring :

  1. Attachment (pertalian), empat tugas yang menandai pertalian yaitu recognisi (menyadari kehadiran orang lain dan menerima orang ini dapat mempunyai arti), membuka diri (membagi informasi yang beresiko rendah atau tidak mengancam), validasi (memberikan persetujuan pada informasi yang dibagikan atau perilaku yang diperlihatkan) dan potensi (kehendak dan kekuatan untuk memajukan hubungan).
  2. Assiduity (perilaku selalu penuh perhatian), selama tahap ini perhatian yang diteliti diberikan pada kerja menjalin hubungan kepedulian. Respek adalah perilaku atau tugas pertama dari assiduity, respek melibatkan mengakui dan menerima keinginan, kebutuhan, kesukaan, perbedaan dan permintaan orang lain. Selanjutnya potentiality, dimana recognisi diberikan pada kemungkinan saling meningkatkan hubungan, yang tidak akan terjadi dengan mengorbankan individualitas orang lain. Memperhatikan, melibatkan, mendengar dan menerima orang lain. Menurut Murray dan Bevis ini merupakan salah satu aspek hubungan memperhatikan yang paling penting. Kejujuran diperlukan agar hubungan menjadi terbuka, kejujuran dapat berupa mengatakan kebenaran atau keinginan untuk tidak membahas sesuatu. Membuka diri terjadi dalam dua tahap yaitu rasa tanggung jawab dan keberanian untuk maju.
  3. Intimasi (melibatkan berbagi diri), tahap ditandai dengan hubungan fisik dan mental yang tepat. Tugas dalam tahap ini memerlukan ketulusan (integritas, kepercayaan), membuka diri (yang mempunyai arti menempatkan seseorang dalam posisi yang terbuka), wawasan (memiliki pandangan yang cepat terhadap orang lain) dan perlibatan (orang lain dapat dilibatkan dalam hubungan tanpa terancam).
  4. Konfirmasi, validasi personal menghasilkan perasaan positif tentang kesadaran dan pertumbuhan. Argumentasi memungkinkan untuk memperbesar, memperkuat dan lebih mempermudah hubungan memperhatikan, karena kemampuan untuk peduli dengan dasar yang luas (Rothrock, 2000).
  5. Faktor-faktor pembentuk perilaku caring

Struktur ilmu caring dibangun dari sepuluh faktor carative, yaitu:

  1. Membentuk sistem nilai humanistik-altruistik.

Watson mengemukakan bahwa asuhan keperawatan didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan (humanistik) dan perilaku mementingkan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi (altruistik). Hal ini dapat dikembangkan melalui pemahaman nilai yang ada pada  diri seseorang, keyakinan, interaksi, dan kultur serta pengalaman pribadi. Semua ini dirasa perlu untuk mematangkan pribadi perawat agar dapat bersikap altruistik terhadap orang lain.

a. Menanamkan keyakinan dan harapan ( faith-hope).

Pemahaman ini diperlukan untuk proses carative. Selain  menekankan pentingnya obat-obatan untuk curative, perawat juga perlu memberi tahu individu alternatif pengobatan lain yang tersedia (mis., meditasi, relaksasi, atau kekuatan penyembuhan oleh diri sendiri atau secara spritual). Dengan mengembangkan hubungan perawat-klien yang efektif, perawat memfasilitasi perasaan optimis, harapan, dan rasa percaya

b. Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain.

Seorang perawat dituntut untuk mampu meningkatkan sensitivitas terhadap diri pribadi dan orang lain serta bersikap lebih otentik. Perawat juga perlu memahami bahwa pikiran dan emosi seseorang merupakan jendela jiwanya.

c. Membina hubungan saling percaya dan saling bantu (helping-trust).

Ciri hubungan helping-trust adalah harmonis, empati, dan hangat. Hubungan yang harmonis haruslah hubungan yang dilakukan secara jujur dan terbuka, tidak dibuat-buat.

d. Meningkatkan dan menerima ungkapan perasaan positif dan negatif.

Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan pasien.

e. Menggunakan proses pemecahan masalah kreatif

Penggunaan sistematis metoda penyalesaian masalah untuk pengambilan keputusan. Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada pasien.

f. Meningkatkan belajar mengajar transpersonal.

Memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal pasien.

g. Menyediakan lingkungan yang suportif, protektif, atau memperbaiki mental, fisik, sosiokultural, dan spiritual.

Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal pasien terhadap kesehatan kondisi penyakit pasien.

h. Membantu memuaskan kebutuhan-kebutuhan manusia.

Perawat perlu mengenali kebutuhan komperhensif diri dan pasien. Pemenuhan kebutuhan paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya.

i. Memberikan keleluasaan untuk kekuatan ekstensial-fenomenologis-spiritual.

Ketiga faktor ini membantu seseorang mengerti kehidupan dan kematian. Selain itu, ketiganya dapat membantu seseorang untuk menemukan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi kehidupan dan kematian

SUMBER :

Burnard, P. 2009. Caring & Communicating.Jakarta : EGC

Dwidiyanti, M. 2007. Caring. Semarang : Hapsari

Leininger, M. 2002, Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research & Practice,Mc, Grow-Hill CompaniesGambar