KECEMASAN (ANXIETY)

Kecemasan bukanlah suatu penyakit melainkan suatu gejala. Kebanyakan orang mengalami kecemasan pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupannya. Biasanya, kecemasan muncul sebagai reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan, dan arena itu berlangsung sebentar saja

Kecemasan merupakan keadaan suasana hati yang ditandai oleh afek negative dan gejala-gejala ketegangan jasmaniah dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya  bahaya atau kemalangan dimasa yang akan dating dengan perasaan khawatir. Kecemasan mungkin melibatkan perasaan, perilaku, dan respon-respon fisiologis. Kecemasan merupakan suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, perubahan,, pengalaman sesuatu yang baru dan belum dicoba, dan dari identitasnya sendiri serta arti hidup

Kecemasan adalah respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebabnya yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya

Kecemasan berbeda dengan rasa takut, karakteristik rasa takut adalah adanya objek/sumber dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam. Ketakutan disebabkan oleh hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat mengidentifikasi dan menggambarkannya (Sunaryo, 2004).

  1. Penyebab Kecemasan

Kecemasan terjadi sebagai akibat dari ancaman terhadap harga diri atau identitas diri yang sangat mendasar bagi keberadaan individu. Kecemasan dikomunikasikan secara interpersonal dan merupakan peringatan yang berharga dan penting untuk upaya memelihara keseimbangan diri dan melindungi diri.

Kecemasan tidak dapat dihindari dari kehidupan individu dalam memelihara keseimbangan. Pengalaman cemas seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal.

Ada empat faktor utama yang memeprngaruhi perkembangan pola dasar yang menunjukan reaksi rasa cemas :

a. Lingkungan

Kecemasan sering timbul bila seseorang merasa tidak aman dengan lingkungannya.

b. Emosi yang ditekan

Kecemasan terjadi jika seseorang menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang lama sekali.

c. Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

d. Keturunan

Sekalipun gangguan emosi ada yang ditemukan dalam keluarga tertentu, ini bukan penyebab penting dari kecemasan (Ramaiah, 2003).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan :

a. Faktor internal

1)  Pengalaman

Sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan tersebut bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang, misalnya seseorang yang memiliki pengalaman dalam menjalani suatu tindakan maka dalam dirinya akan lebih mampu beradaptasi atau kecemasan yang timbul tidak terlalu besar (Horney dan Trismiati, 2006).

2)  Respon terhadap stimulus

Kemampuan seseorang menelaah rangsangan atau besarnya rangsangan yang diterima akan mempengaruhi kecemasan yang timbul (Horney dan Trismiati, 2006).

3)  Usia

Pada usia yang semakin tua maka seseorang semakin banyak pengalamnnya sehingga pengetahuannya semakin bertambah. Karena pengetahuannya banyak maka seseorang akan lebih siap dalam menghadapi sesuatu (Notoatmodjo, 2003).

4)  Gender

Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, Myers (1983) dalam Trismiati (2006) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.

b. Faktor eksternal

1)       Dukungan keluarga

Adanya dukungan keluarga akan menyebabkan seorang lebih siap dalam menghadapi permasalahan (Kasdu, 2002).

2)       Kondisi lingkungan

Kondisi lingkungan sekitar ibu dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi  permasalahan, misalnya lingkungan pekerjaan atau lingkungan bergaul yang tidak memberikan cerita negatif tentang efek negatif suatu permasalahan menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menghadapi permasalahan (Baso, 2000).

 3. Manifestasi Kecemasan

A. Manifestasi kognitif.

Yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.

B. Perilaku motorik.

Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar.

C. Perubahan somatik.

Muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah.

D. Afektif.

Diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang berlebihan.

Stuart dan Sunden (1998) memberikan suatu penilaian respon fisiologis dan respon perilaku, kognitif dan afektif terhadap kecemasan meliputi :

  1. Respon simpatis

1)   Kardiovaskuler : palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun.

2)   Pernafasan : nafas pendek, nafas cepat, tekanan pada dada, nafas dangkal, pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik, terengah-engah.

3)   Neuromuskuler : refleksi meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah, gerakan yang janggal.

4)   Gastrointestinal : kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare.

5)   Traktus Urinarius : tidak dapat menahan kencing, sering berkemih.

6)   Kulit : wajah kemerahan, berkeringat setempat ( elapak tangan), gatal, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat berkeringat sekujur tubuh.

2. Respon Parasimpatis

1)      Perilaku Afektif : Gelisah, ketegangan fisik, tremor, gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cendrung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan intrpersonal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindar.

2)      Perilaku Kognitif : Perhatian terganggu, konsentrasi terganggu dan pelupa, salah dalam memberikan penilaian, preokupasi dan hambatan berfikir, kreatifitas dan prodoktifitas menurun, bingung, sangat waspada, kesadaran diri meningkat, kehilangan objektifitas, takut kehilangan control, takut pada gambran visual, takut cedera atau kematian.

  1. Kognitif : Mudah terganggu, tidak sabar, gelisah dan tegang, nervus dan ketakutan, alarm, teror, gugup, gelisah.
  2. Tingkat kecemasan

Stuart dan Sunden (1998) membagi kecemasan menjadi 4 tingkatan, yaitu :

a. Kecemasan ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dab individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.

1)   Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, gejala ringan pada lambung, mika berkerut dan bibir bergetar.

2)   Respon kognitif : Lapang persegi meluas, mampu menerima ransangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif.

3)   Respon perilaku dan emosi : Tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi

b. Kecemasan sedang

Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun/individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.

1)   Respon fisiologis : Sering nafas pendek, nadi ekstra systole dan tekanan darah naik, mulut kering, anorexia, diare/konstipasi, gelisah

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi menyempit, rangsang Luar tidak mampu diterima, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya

3)   Respon perilaku dan emosi : Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan), bicara banyak dan lebih cepat, perasaan tidak nyaman

c. Kecemasan berat

Pada kecemasan berat lahan persepsi menjadi sempit. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan/tuntutan.

1)   Respon fisiologis : Sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi sangat menyempit, tidak mampu menyelesaikan masalah

3)   Respon perilaku dan emosi : Perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat, blocking

d. Panik

Pada tingkat ini persepsi sudah terganggu sehingga individu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntunan.

1)   Respon fisiologis : Nafas pendek, rasa tercekik dan berdebar, sakit dada, pucat, hipotensi

2)   Respon kognitif : Lapang persepsi menyempit, tidak dapat berfikir lagi

3)   Respon perilaku dan emosi : Agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriak-teriak, blocking, persepsi kacau.

  1. Skala Kecemasan

 Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic.  Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale).  Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe).

Penilaian kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi :

  1. Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tensinggung.
  2. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.
  3. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
  4. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
  5. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi.
  6. Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
  7. Gejala somatik: nyeri patah otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
  8. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah.
  9. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
  10. Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.
  11. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut.
  12. Gejala urogenital : sering kencing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
  13. Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka  merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala.
  14. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat.

              Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dan kategori :

Nilai

Kategori

0

Tidak ada gejala sama sekali

1

Satu dari gejala yang ada

2

Sedang/separuh dari gejala yang ada

3

Berat/lebih dari setengah gejala yang ada

4

Sangat berat /semua gejala ada.

                                                          Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah skor dan item 1-14 dengan hasil :

Skor

Hasil

< 6

Tidak ada kecemasan

7-14

Kecemasan ringan

15-27

Kecemasan sedang

>27

Kecemasan berat

(Nursalam, 2003)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s